NII, Penyesatan Agama Berkedok Islam

INDONESIA kembali diteror. Sejak kasus-kasus penyimpanagn agama merebak beberapa tahun lalu, sampai sekarang pemerintah masih terkesan lamban mengatasi masalah penyimpangan gerakan faham keagamaan yang sudah berlangsung lebih dari 20 tahun ini. 

Dari ratusan aliran dan faham keagamaan yang menyimpang, ada lima aliran menyimpang yang telah disikapi secara berbeda dan diskriminatif. Mulai dari Ahmadiyah, Islam Jama’ah (LDII), Al Qiyadah Al Islamiyah, Jama’ah Lia Eden, dan Gerakan Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW-9)-Ma’had Al Zaytun. Masing-masing telah menjadi isu menarik menyangkut nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.

Khusus menyikapi isu gerakan NII/KW9, ada hal yang sangat mengusik nurani dan solidaritas kebangsaan kita ketika ‘negara gagal’ melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Karena lambannya pemerintah dalam menangani kasus penyimpangan agama yang mengatasnamakan Islam, maka timbullah spekulasi bahwa pemerintah sengaja membuat dan memelihara aliran yang diduga sesat itu. Seharusnya kasus ini hanya berlangsung dua atau tiga bulan. Artinya, kalau pemerintah mau, satu tahun saja sudah bisa disikat. Tapi kenyataannya, kasus penyimpangan agama yang berkedok Islam terus bergentayangan di seantero jagad raya ini.

Teror “penyesatan agama” saat ini menjadi sebuah fenomena yang bergejolak di masyarakat. Sepak terjang gerakan NII/KW9 dalam penyimpangan faham keagamaan tersebut sudah memakan banyak korban, terutama generasi muda. Ini membuktikan ketidakberdayaan sistem pertahanan kita sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.  Di sinilah dibutuhkan peran aktif dan ketegasan para pemimpin dan semua elemen bangsa untuk melindungi rakyat dan segenap tumpah darah Indonesia.

NII/KW9 saat ini telah menjelma sebagai mesin penghancur masa depan anak bangsa yang bergentayangan di seantero kampus, mall, pabrik, dan pinggiran kota. Jumlah riil korban sangat fantastis, sekira 200 ribu pemuda-mahasiswa.
Semakin banyaknya korban harus mendapat perhatian serius pemerintah terhadap dampak Gerakan NII/KW9. Sudah ratusan ribu anak bangsa putus sekolah atau kuliah, ribuan pelajar-mahasiswa menghilang dari rumah meninggalkan kasih sayang orangtuanya. Dampaknya sangat fantastis, jutaan keluarga besar orangtua korban mengalami pemiskinan dan penelantaran tanpa ada yang peduli siapa yang mau mengulurkan tangan memberikan advokasi ataupun pembelaan.

Di sinilah peran pemerintah terutama Departemen Agama sangat diharapkan untuk memberikan solusi tuntas dan integral terhadap upaya penghancuran bangsa berkedok pesantren dan penyimpangan gerakan faham keagamaan yang sudah berlangsung lebih dari 15 tahun ini.

Gerakan Negara Islam Indonesia KW9 berpusat di Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) Al Zaytun dan memiliki jejaring sosial di tingkat teritorial mulai basis Qobilah (RW), desa, hingga Gubernur, nyaris merata di seantero Jabodetabek. Tak hanya itu, mereka juga memiliki jaringan perwakilan di seantero propinsi se-Nusantara.

Terbukti, keduanya terkait erat memiliki benang merah dengan tindak kejahatan, upaya makar, dan penyebaran faham sesat menyesatkan yang membahayakan bagi keutuhan masyarakat. Para jamaah NII Al Zaytun menghalalkan merampok, mencuri, menipu, memeras, merampas, atau melacur asalkan demi kepentingan Negara atau Madinah.

Hal tersebut disandarkan pada filosofi sesat atas kepemilikan wilayah teritori Indonesia oleh Negara Islam Indonesia, atas dasar Proklamasi NII dan ke-Khalifahan Kartosoewirjo pada tahun 1949, serta dalam rangka aplikasi atau praktek dari ayat, "Sesungguhnya bumi ini diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang Shalih." 

Dengan menekankan keyakinan bahwa pada dasarnya terhitung sejak proklamasi berdirinya NII tahun 1949, maka seluruh wilayah Indonesia beserta isi dan kekayaannya adalah milik NII dan segenap warganya. Namun karena hal itu kini dirampas dan dikuasai oleh Rezim Pancasila beserta rakyatnya, oleh karenanya wajib hukumnya mengambil kembali harta kekayaan milik NII tersebut dengan jalan apa pun untuk kepentingan Negara Islam Indonesia. Inilah dasar falsafi adanya prinsip "tubarriru al washilah”, menghalalkan segala cara.

Oleh karena itu, Gerakan NII/KW9 sangat berbahaya bagi masa depan generasi muda dan mengancam stabilitas keamanan berbangsa dan bernegara. Maka sudah seharusnya Gerakan NII KW9 dilarang dan ditumpas. Sedangkan Ma’had Al Zaytun harus segera dicabut izin pengelolaan pendidikannya karena dijadikan sebagai kedok/kamuflase dan sebagai base camp gerakan kriminal terorganisasi serta membangun kekuatan ‘Negara dalam Negara’ (Makar).

Nurul Fauziah
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung(//rfa)

sumber:

http://kampus.okezone.com/read/2011/05/03/367/452824/nii-penyesatan-agama-berkedok-islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s